PERINGATAN...!!! KHUSUS BAGI IKHWAN & AKHWAT YANG SUDAH MENDAPAT IJAZAH KHUSUS. WAJIB DI AMALKAN DENGAN SANAD TALKIN IJAZAH DARI PENGIJAZAH ATAU MURSYD hubungi Ustd. Danny Kusmayadi Alias Kang Dopas Cp/WA: +6281210-93-9090

Rabu, 15 April 2015

IJAZAH DAN SANAD DALAM ILMU



KEDUDUKAN IJAZAH DAN SANAD DALAM ILMU
Sanad :
Sebagai kata, sanad bermakna lereng bukit atau sesuatuyang dibuat sandaran. Adapun makna sanad sebagai istilah adalah rentetan mata rantai matan (redaksi
suatu informasi/pengetahuan/ilmu) yang terdiri dari beberapa orang
yang meriwayatkan yang bersambung-sambung. Pengertian
terminologis ini umumnya dimaksudkan dalam disiplin ilmu
hadits dan qira’at. Keduanya, hadits dan qira’at, menghubungkan rawi
(orang yang meriwayatkan) bagil ilmu hadits dan qari (pembaca Al-
Qur’an) bagi ilmu qiraa’at, yang berhulu pada Rasulullah SAW.
Sanad adalah silsilah atau mata rantai yang menyambungkan dan
menghubungkan sesuatu yang terkait dan bertumpu kepada
sesuatu yang lain. Dalam kacamata tasawuf, sanad keilmuan,amalan
dzikir dan ketarekatan adalah bersambungnya ikatan bathin
kepada guru-guru dan mursyid. Jadi, dalam sanad ini, terkandung
aspek muwashalah (hubungan dan  ketersambungan) satu pihak dengan
pihak yang lain, akibat adanya tahammul wa al-ada’ (mengambil
dan memberi). Sistem sanad merupakan salah satu mekanisme pencarian ilmu dan pengetahuan yang sempurna. Karena setiap pengetahuan yang
dipindahkan itu dapat dipertanggungjawabkan otensitas dan keabsahannya melalui rantaian periwayatan setiap perawi. Ketelitian ini dapat dilihat dari kaidah
ulama hadits dengan hanya mengambil hadits dari perawi yang
tsiqah (dapat dipercaya).
Begitu juga dengan kaidah disiplin ilmu qira’at. Disiplin ilmu sanad dianggap
sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menjamin keshahihan ilmu
yang disampaikan sehingga dianggap sebagai bagian masalah
kepentingan agama. Al-Imam Ibnu Sirin (110 H/728 M)
mengungkapkan :
“Sesungguhnya ilmu ini (ilmu sanad) termasuk urusan agama. Oleh
karena itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ajaran agama
kamu”. Begitupun dengan Imam Abdullah bin Al-Mubarak (181 H/797M),
Yang menyatakan urgensi ilmu sanad ini dalam ungkapannya :
“Rangkaian sanad itu merupakan bagian agama. Kalu bukankarena
menjaga sanad, pasti siapapun akan dapat semaunya mengatakan apa
saja yang dia ingin katakan”.
Ibnu Al-Mubarak juga berkata,
“Pelajaran ilmu yang tak punya
sanad bagaikan menaiki atap tanpa
punya tangganya, sungguh telah
Allah muliakan umat ini dengan
sanad.
Bahkan Imam As-Syafi’I
mengingatkan, “Orang yang belajar
ilmu tanpa sanad guru bagaikan
orang yang mengumpulkan kayu
bakar di kegelapan malam. Ia
membawa kayu bakar yang diikatnya
padahal terdapat padanya ular
berbisa dan ia tak tahu”.
Ijazah
Adapun Ijazah antara lain diambil
dari sebuah ungkapan istajaztuhul
ma fa’-ajazani (aku meminta air
darinya, lantas dia memberiku air).
Ungkapan tersebut memberi sebuah
pedoman bagaimana seseorang
yang meminta supaya diberikan
curahan ilmu, lalu guru itu
mencurahkan ilmu yang dia miliki
kepada muridnya itu.
Imam As-Suyuthi dalam kitabnya
Itqan fi “Ulum al-Qur’an
menjelaskan kronologi terbentuknya
istilah ijazah dalam kedisiplinan
ilmu.
Menurutnya seorang murid yang
ingin menuntut suatu ilmu kepada
seorang guru pada awalnya tidak
mengetahu penguasaan ilmu yang
dikuasai oleh sang guru tersebut.
Oleh karena itu, ijazah adalah
sebagai bukti pengakuan dan
persaksian dari pihak guru bahwa
dia adalah seseorang yang mahir
dalam bidang tersebut.
Pada perkembangan belajar dan
mengajar berikutnya, ijazah juga
menjadi suatu tanda keizinan yang
diberikan seorang guru kepada
muridnya untuk meriwayatkan apa
yang telah dipelajari dan diambil
dari guru tersebut.
Imam An-Nawawi, sebagaimana
dinukil As-Su yuthi dalam kitab
Tadribur Rawi, mengatakan,
langkah tahammul wal ada’ (upaya
mengambil suatu sanad
pengetahuan dan pemberiannya)
disebut ijazah.
Salah satu bentuk ijazah, seorang
syaikh (guru) mengatakan kepada
muridnya, “Ajaztuka hadza kama
ajazani syaikhi”. Artinya, “Aku
ijazahkan (ilmu) ini kepadamu,
sebagaimana guruku telah
mengijazahkan kepadaku” . Itu
biasanya berupa cara membaca Al-
Qur’an, riwayat-riwayat hadits, kitab-
kitab hingga amalan-amalan seperti
ratib, wirid dan kumpulan bacaan
dzikir lainnya.
Jumhur ulama memperbolehkan
tradisi pengijazahan ini. Al-Khatib Al-
Baghdadi, dalam kitabnya, Al
Kifayah, menyebutkan, sebagian
ahli ilmu membolehkan al-ijazah
dengan dasar sebuah hadits bahwa
Rasulullah Shallahu “Alaihi Wasallam
pernah menulis surat Al-Bara’ah (At-
Tawbah) dalam sebuah lembaran
lalu menyerahkannya kepada
sahabat Abu Bakar RA, kemudian
beliau menyuruh sahabat Ali bin Abi
Thalib RA untuk mengambilnya dari
sahabat Abu Bakar, tanpa
membacanya terlebih dahulu
kepada beliau, hingga sampai di
Makkah, kemudian membuka dan
membacanya dihadapan para
sahabat.
Ijazah merupakan sebuah tradisi
ilmiah yang mengakar kuat dan
membudaya di kalangan umat
islam, baik terdahulu maupun kini,
khususnya dikalangan penuntut
ilmu.
Pada bidang keilmuan tertentu,
ijazah ini sangat selektif, seperti Al-
Qur’an dan hadits, serta amalan
khusus dikalangan sufi (tarekat).
Bukan tanpa sebab mengapa perlu
syarat-syarat yang cukup ketat. Bagi
Al-Qur’an dan hadits tentunya
syarat-syarat sanad yang
menentukan. Sedangkan amaliah
tarekat, ini berkaitan dengan
amanah dan kepercayaan seorang
guru kepada muridnya

0 komentar:

Pahami amanat dibawah ini.

Semua keilmuan yg ada diblog ini Khusus Dewasa harus di-izajahkan, baik penyatuan,sabatin atau istilah apapun juga, maka harap berhati-hatilah. Hanya Bagi mereka Yang SERIUS...
Ilmu Tanpa IJAZAH... SESAT dan Sia-sia maka segera sempurnakn Ilmu Anda maka...
hubungi Kang Dopas
Pengijazah Di No HP : +62 81 21093 9090
SARANA FIDYAH MAHAR Silahkan di nomor
Rekening BRI : 3865-01-017853-532 atas nama DANNY KUSMAYADI = KONFIRMASIKAN SEGERA
Nb.isi artikel diluar tanggung jawab saya selaku admin dan pengelola blog